Hidup Indah dengan Ukhuwah

Selasa, 20 November 2012

Bahasa Jiwa



Tidak semua manusia mengerti sgala perasaan
Yang ada di hati kita
Tidak pula dapat selalu memahi, gejolak jiwa yang ada didalam diri kita

Jangan selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu
Walaupun ia adalah sahabat karibmu sendiri
 Karena perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah disetiap waktu

Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu
Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu

Janganlah memaksa karena saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa
Cukuplah hanya allah tempat mencurahkan segala yang ada di hati kita
Dan menumpahkan segala perasaan yang ada dijiwa karena perasaan adalah
Bahasa hati yang dapat berubah disetiap waktu **Maidany


Sahabat yang mencintai karena Allah akan mengembangkan senyum dengan doa (tanda bahagia) ketika melihat saudanya berbahagia, akhir Dzulhijjah yang indah 1433H.

Sgala kebaikan dari Allah menyertaimu sahabat.
_Yang senantiasa slalu ingin bersahabat denganmu kini dan nanti_

Minggu, 08 Juli 2012

Mencintai Sejantan 'Ali


Cinta menghubungkan kita dengan Maha Abadi (makna cinta)
Cinta slalu ingin berbuat baik dan selalu mengorbankan karena Allah
Bukan karena nafsu dan syahwat.
Karena cinta selalu menginginkan kabaikan bukan menjerumuskan
_Buya Yahya_ www.buyayahya.org

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”


Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.


Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.

”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.

Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.


Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.

Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Jalan Cinta Para Pejuang_SAF

Kritikan Putri Imam Ahmad

Imam Ahmad adalah seorang ulama besar ahli hadis dan ahli fiqih di kota Baghdad. Dia memiliki seorang guru yang sangat ia hormati, yaitu Imam Syafii. Penghormatan Imam Ahmad pada Imam Syafii adalah sebaik-baik penghormatan seorang murid kepada gurunya. Imam Ahmad tidak pernah lupa untuk menyebut nama Imam Syafii dalam doa-doanya. Dia bahkan meminta kepada anak dan muridnya untuk mendoakan Imam Syafii setiap usai shalat. 
 
Imam Ahmad memiliki seorang anak perempuan yang salehah.Seringkali 
Imam Ahmad menuturkan keutamaan, kezuhudan, ketaqwaan, kecerdasan, dan kebaikan Imam Syafii. Hal ini membuat putrinya itu ingin sekali bertemu langsung dengan ulama yang dikagumi ayahnya itu.
 
Suatu kali Imam Ahmad mengundang Imam Syafii ke rumahnya. Imam Ahmad telah menyiapkan hidangan dan kamar khusus untuk gurunya itu. Imam Syafii samapai di rumah Imam Ahmad setelah shalat Isya'. Begitu sampai Imam Syafii langsung diajak Imam Ahmad untuk makan malam. Imam Syafii makan dengan tenang dan lahap. Usai makan Imam Syafii berbincang-bincang sebentar dengan Imam Ahmad lalu masuk ke kamar yang telah disiapkan untuknya dan merebahkan badan.
 
Ketika tiba waktu subuh Imam Syafii bangkit dan langsung menuju masjid bersama Imam Ahmad untuk shalat berjamaah. Imam Ahmad mempersilakan Imam Syafii untuk menjadi Imam. Namun Imam Syafii menolaknya.
 
"Jamaah disini lebih akrab denganmu. Hati merekaakan lebih tenang dan lebih mantap jikakau yang menjadi imam."Kata Imam Syafii dengan bijak.
 
Usai shalat subuh kedua imam itu I'tikaf di masjid sampai tiba waktu dhuha barulah keduanya kembali ke rumah Imam Ahmad. Sampai di rumah, Imam Syafii kembali masuk kamar. Sedang Imam Ahmad langsung ditemui oleh putrinya.
 
"Ayah, benarkah tamu kita Imam Syafii yang sering ayah ceritakan?" tanya putri Imam Ahmad
 
Benar, Ada apa putriku?" Jawab Imam Ahmad.
 
"Jika benar, maka ada tiga koreksi dan kritikan untuk Imam Syafii. Tiga hal ini menurutku agak tercela. Pertama, kulihat waktu makan, beliau makan banyak sekali. Kedua, setelah masuk kamar beliau langsung merebahkan badan dan tidur. semalam suntuk aku memperhatikan. Ternyata beliau tidak shalat malam. padahal shalat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh. Dan ketiga, begitu bangun tidur ia langsung ke masjid untuk shalat subuh tanpa wudlu."
 
Imam Ahmad jadi bingung dan penasaran mendengar penuturan putrinya itu. Namun ia tak mau berprasangka yang bukan-bukan pada gurunya. Saat itu juga Imam Ahmad menemui Imam Syafii untuk meminta penjelasan atas apa yang diamati putrinya.
 
Mendengar hal itu Imam Syafii tersenyum dan menjelaskan,
 
"Ahmad memang benar aku makan banyak dan itu ada alasannya. Aku tahu makanan yang kau hidangkan itu halal. Aku juga tahu engkau adalah orang yang pemurah dan dermawan. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya. Dan makan makanan orang pemurah adalah obat. Lain dengan makan makanan orang bakhil, itu membawa penyakit. Aku makan banyak karena berharap mendapat berkah yang banyak juga berharap mendapat obat.
 
Sedang aku tidak shalat malam, itu karena bagitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. digelar didepan mataku. Dan aku menelaahnya dengan seksama semalam suntuk. Dan hasilnya, aku berhasil memecahkan tujuh puluh dua masalah fiqih yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Karena itu aku tidak sempat untuk shalat malam.
 
Dan aku shalat subuh tanpa berwudlu sama sekali sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Aku masih punya wudlu sejak shalat Isya'. Maka aku shalat dengan kalian tanpa perlu mengulang wudlu."


Terinsiprasi dari tausiah Buya Yahya www.buyayahaya.org di kutip dalam Novelet Habiburrahman El-Shirazy - Di Atas Sajadah Cinta

Sabtu, 19 Mei 2012

Agar Anak Anda Gemar Membaca

Apa yang anda inginkan untuk anak anda pada saat ini? Apakah anda ingin anak anda hanya bisa membaca atau gemar membaca? Tentu anda akan dapat merasakan bedanya. Membantu anak-anak belajar membaca tidaklah sulit, tetapi anda membutuhkan teknik yang benar untuk mempraktekkannya. Seperti kata pepatah lama yang menyebutkan ’mudah saja jika anda tahu caranya’. Jadi jika anda mengetahui cara dalam membantu anak-anak belajar membaca, maka hasilnya akan berbeda. Jika anak-anak tidak menyukai sesuatu, anda tidak bisa memaksa mereka untuk melakukannya. Tetapi, jika anak-anak menyukai sesuatu, anda sebagai orang tua tidak bisa menghentikan mereka. Jika kita ingin anak-anak kita gemar membaca, kita sebagai orang tua harus mulai menanamkan kecintaan anak-anak terhadap buku. Tujuan utamanya bukanlah mengajarkan bagaimana cara menerjemahkan atau membunyikan atau mengenal kata, melainkan untuk menanamkan rasa cinta, semangat, dan gairah anak-anak terhadap buku sejak dini. Pada tahap awal membaca, sebaiknya kita tidak terlalu menuntut usaha yang lebih dari pihak anak, melainkan tahap awal itu harus sangat menyenangkan bagi anak, tidak boleh tid ak. Jadi buatlah kegiatan belajar membaca menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Orang tua zaman dulu membacakan buku untuk anak hanya sebagai kesenangan, mereka tidak menganggap buku sebagai media belajar membaca. Prinsip lawasyang mereka pegang adalah anak-anak belum siap belajar membaca sebelum mereka masuk ke jenjang sekolah. Zaman telah berubah, prinsip tersebut tidak bisa selamanya diterapkan. Pelajaran membaca tidak hanya bertujuan agar anak bisa membaca tapi agar anak juga gemar membaca. Orang tua merupakan komponen penting yang mengenalkan kemampuan membaca kepada anak. Membacakan untuk anak, sering mengajak mereka berbicara, dan mengajak anak melakukan berbagai kegiatan menarik adalah cara yang bisa orang tua lakukan untuk mengasah kemampuan prabaca anak. Seperti yang diungkapkan di atas bahwa pengajaran membaca sebaiknya dimulai sejak dini. Ada sebagian pakar yang percaya bahwa periode bayi merupakan periode ideal untuk mulai belajar membaca. Seorang bayi mendengar percakapan dan bahasa sejak dia dilahirkan. Kita pasti tersenyum ketika mendengar celotehan si bayi seperti " Awwa, waa,” yang kita terjemahkan sebagai ”Ayah” dan ”Buh, buh,” adalah ”Ibu”. Padahal belum tentu itu yang dimaksud, tetapi kita tetap meyakininya seperti itu. Rabanan (babbling) tersebut selalu kita hargai dengan pelukan, tawa, dan pujian. Secara naluriah rabanan merupakan tahap awal dari berbicara. Jadi, sepenuhnya kita harus terus melibatkan anak-anak dalam percakapan. Percakapan tersebut bisa kita lakukan pada mereka saat berbicara di mobil ataupun saat kita sedang memandikan mereka.Kita bisa sambil menunjuk benda-benda dan memberikan penjelasan. Kita harus tahu bahwasetelah anak sering mendengar dan terlibat dalam percakapan, kemampuannya dalam menerapkan kaidah bahasa juga pasti meningkat. Betapa menakjubkannya cara anak-anak dalam menyerap setiap kaidah-kaidah tersebut. Kesalahan mereka justru merupakan indikasi kemampuan mereka dalam menyerap tata bahasa. Selanjutnya, kita bisa mengajarkan membaca dengan membiasakan anak- anak melihat kata-kata tertulis. Dengan bahagia, kita akan mendengar celotehan-celotehan anak yang sedang membolak-balik halaman. Celotehan tersebut merupakan tahap awal membaca. Menurut Kathy Hirsh, PhD, direktur Infant Laboratory Temple University di Ambler,Pennsylvania, ”Jika orang tua rajin membacakan buku kepada anak dan kerap melibatkan anak dalam pembicaraan, hal itu bisa membangun perbendaharaan kata dan menumbuhkan kemampuan dasar membaca.”Kebiasaan membacakan buku bagi anak-anak anda adalah salah satu hal yang paling berharga yang dapat kita lakukan untuk mereka. Karena memiliki manfaat yang sangat besar. Sebagian orang sudah membacakan buku pada bayi yang masih dalam kandungan. Mungkin anda menganggap ini berlebihan, tetapi pastikan untuk memulai sebelum anak bisa berbicara. Cobalah anda membeli buku kain yang dikemas bersama mainan lunak untuk bayi dari lahir hingga usia sembilan bulan. Atau masih banyak jenis-jenis buku lain yang juga berfungsi sebagai mai-nan. Tampaknya ini memang seperti hanya mainan, tapi benda-benda tersebut sangat berguna untuk membangkitkan kecintaan anak terhadap membaca. Membacakan buku pada anak anda tidak hanya membangkitkan kecintaan mereka terhadap buku. Tetapi kegiatan ini juga membiasakan mereka dengan bahasa buku sehingga anak-anak siap untuk membaca sendiri. Keuntungan lain dari membacakan buku untuk anak-anak anda adalah peningkatan jumlah kosakata mereka. Sebaliknya, anak yang tak pernah dibacakan buku akan kehilangan kesempatan dalam menyerap bentuk bahasa tulisan, dan kurang mampu memperkirakan isi sebuah wacana. Anda bisa melibatkan kakek-nenek, pengasuh anak anda, dan teman-teman dalam membantu anda membacakan buku untuk anak-anak. Dalam membacakan buku untuk anak, sebaiknya anda bisa melakukannya dengan ekspresif. Tirukan suara-suara, putar mata anda, berbisiklah dengan ketakutan, berteriak dan melompatlah seolah-olah anda adalah seekor naga, seorang putri ataupun raja. Cara ini membuat acara pembacaan buku menjadi menyenangkan. Tak ada jawaban pasti kapan anda harus berhenti membacakan buku untuk anak-anak. Tetapi biasanya anak-anak akan memberitahu anda bila mereka merasa tidak memerlukannya lagi. Jika kita ingin menciptakan generasi yang gemar membaca, kita sebagai orang tua sebaiknya bisa menjadi teladan. Kita harus bisa mempertunjukan bahwa membaca merupakan kegiatan yang dilakukan untuk keuntungan diri sendiri, bukan orang lain. Jadi, tak ada gunanya bila kita mencoba menularkan ”virus” membaca kepada anak-anak, jika kita sendiri tidak memiliki minat untuk membaca. by LEAC TEAM

Selasa, 03 April 2012

SAHABAT...

Mengapa seseorang bangga akan identitas kemuslimahan yang di elu-eluhkan dan disanjung-sanjung. Tetapi pada kenyataannya masih meragukan dan terus menimbang-nimbang amalan wajib baginya!!

Apakah KeMusLimaHan itu wajib dipertanyakan???
Keraguan seringkali menghadiri disetiap langkah berarti,,

Apakah dirinya m’rasa lebih baik??
S’lalu dan s’lalu saja membandingkan keberadaan orang lain ditengah-tengah dirinya.
Sikap yang membuatnya p’rcaya diri tak lagi dipikir dua kali
(weleh-weleh,,, (itu kata yang sering keluar dari mulut teman ku asal Ciamis-turunan-Semarang) hee.

Oh.. ukhti,
sungguh cantik rona parasmu
juga ayu rupa mu
tapi, ada satu hal tak terlihat cantik dari mu
secarik kain yang menutup indah gerai rambutmu tak lagi terlihat.
“kesiapan itulah alasannya“. Ya.. sebuah alasan jawabnya.

Peduli apa aku ini mengurusi permasalahan orang, toh bercermin diri untuk melakukan sebuah perubahan pun masih banyak yang harus ku patri
Tidak..! Tapi aku peduli,
dan aku pun sedih melihat mu ukhti..

kecantikan yang engkau banggakan sungguh tak kekal adanya. Mengambil contoh dari kehidupan orang hendaknya menjadi tantangan agar keimanan kita s’lalu berada di tingkat dinamis
bukanlah sebaliknya melainkan pacuan untuk terus melaju menuju gerbang keridhoan-Nya.

Ukhti semoga Allah SWT senantiasa melindungi mu disana

Janganlah takut melakukan perubahan, yang sebenarnya hati kecilmu mengatakan ia..
Kuatkanlah hati mu akan sindiran, cacian, dan ejekan-hinaan sekalipun. Karena engkau muslimah sejati pasti kan terlewati..

Jazakillah.
4 mY lOvelY siSteR in d’WorLd