Hidup Indah dengan Ukhuwah

Kamis, 04 Desember 2014

TA'ARUF PART 2


Hukum ta'aruf adalah sunnah dalam arti, ketika kita menjalankan ta'aruf kita mendapatkan pahala dan apabila kita meninggalkannya tidak mendapat dosa. Karena dalam ta'aruf ada sebuah hikmah, yaitu :
  1. Jika kita menjalankan ta'aruf berarti kita telah mengikuti sunnah Rasul Saw dan dalam menjalaninya diniatkan menjalankan sunnah nabi (niat harus ditata dengan benar)
  2. Lebih terjamin pernikahannya, lebih langgeng dan dijauhi dari perceraian
  3. Akan terbentuk keluarga yang mawaddah wa rahmah

Akan tetapi jangan mempunyai niatan ta'aruf agar bisa langgeng dan bahagia dengan suami namun tidak diawali dengan melakukan sunnah. Ta'aruf ini dilakukan oleh dua orang, perempuan dan laki-laki setelah keduanya mempunyai keinginan untuk menikah dan sebelum melakukan khitbah. Ada larangan ketika ta'aruf dilakukan setelah khitbah hukumnya haram kecuali ada hajat yang lain.

Tata-tata cara dalam ta'aruf :
  1. Diantara dua orang, laki-laki dan perempuan tadi satu dengan yang lainnya saling menutup aurat. Aurat perempuan dan laki-laki sebagaimana seperti aurat didalam sholat
  2. Di sunnahkan bagi laki-laki melihat wajah perempuan tersebut agar diketahui kecantikannya. Jika lebih dari itu adalah haram, serta melihat kedua telapak tangannya baik yang diluar maupu yang di dalam. Sama saja bagi perempuan pun melakukan hal tersebut
  3. Dan saling melihat kesuburan diantar mereka

dalam hal ini jangan ada gengsi atau malu untuk melamar terlebih dahulu karena yang mengawali itu yang lebih baik.

Kapan masa habis waktu atau berhenti ketika ta'aruf ?
  1. Saat salah satu diantara dua orang laki-laki dan perempuan tersebut sudah saling mengetahui akhlak salah satunya dengan melihat wajah tadi
  2. Jika belum terlihat, dibolehkan terus melihat sampai yakin setelahnya harom untuk ta'aruf lagi. Karena tujuan ta'aruf tersebut hanya untuk melihat akhlaknya selain itu hanya melihat wajah dan telapak tangan saja.


Tata cara menolak agar tidak terjadi permusuhan :
  1. Diam tidak menjawabnya. Sunnah menolak berpaling dengan tidak menjawab apapun karena itu mudhorotnya lebih ringan


Syarat ta'aruf bagi perempuan :
  1. Tidak terikat dalam pernikahan yang lain (bagi laki-laki) kecuali bagi perempuan ta'aruf kepada seorang laki-laki yang sudah terikat pada pernikahan yang lain
  2. Diperbolehkan, tetapi engkau tidak boleh mempunyai prasangka dimana kita yakin bahwa kita pasti ditolak. Maka ta'aruf disini hukumnya tidak boleh, haram.
Wallahu'alam bishowab

Rabu, 03 Desember 2014

WILAYAH RASA TANPA KATA ADALAH HATI

Lembut sifatnya ialah hati, hati yang menggerakkna seluruh raga untuk patuh kepada Rabbnya sang pencipta pemilik hati. Ia pun rapuh saat segudang hawa nafsu gandrung kepadanya. Ia pun juga kuat ketika raga yang lain lemah hati dapat selalu menguatkan diri. Dan adawilayah rasa tanpa kata adalah hati. Hati yang selalu mengharap cintanya tepaut hanya untuk-Mu sang pemilik hati, bukan karena siapa kepada siapa dan untuk siapa. Tapi karena kebutuhan diri mencari sejati sang pencipta-Nya dimana tempat ia kembali. Namu dalam panjatan doa ia selalu mengharap, disaat Engkau mengenalkan cinta padanya cintakanlah ia pada sesuatu yang mencntai-Mu sehingga ia tak disibukkan untuk mencintai sesuai selain dari-Mu. Disana ada rasa bahagia, syahdu, bahkan lemah sekalipu tapi saling menguatkan dan seperti itulah seharusnya.

Rasa itu tak pernah ia harap dalam detik-detik waktu yang bergulir tapi selalu ia nanti kedatangannya. Dan ia datang diwaktu yang tepat saat hati sudah mulai membukanya. Ini bukan kehendaknya tapi semua sudah ada yang menggerakkan. Namun sayangnya ia harus tertutup kembali disaat harapan tak sesuai dengan keinginan. Begitu kuatnya ia menjunjung syari’at-Mu samapai-sampai rasa takut menyelimuti, adakah ketakutan itu membuatnya resah dan berpaling darimu ? tidak, ia justru mencari-Mu semakin ingin dekat denga-Mu agar tak terjebak dalam kubang kehinaan yang tak Engkau ridhoi. Jika sendiri untuk menjadi mulia didekat-Mu tentu akan lebih baik dan menenangkan dibanding mengikuti keinginan diri yang tak jelas arah dan lalai dari-Mu.

Ia bertekad sudah, menunggu saat yang tepat untuk mendapatkan yang hebat. Dan ia kembali menunggu kedatangan itu, kali ini mengharap dari sesuatu yang benar-benar ia harap. Harapan yang tak pernah lelah ia panjatkan dalam sujud-sujud panjangnya serta larutan doa dalam memasrahkan diri. Ia sedang menata dan memantaskan  diri agar siap untuk dijemput. Ada malu yang menyusup ragu-ragu tapi tak lama itu cepat berlalu, karena ia begitu menjaga makna sucinya hati untuk tetap terpaut hatinya hanya kepada-Mu. Jagalah ia untuk tidak melanggar, jagalah ia untuk selalu taat, dan bimbinglah ia mencri kebenaran dari fitrah sesungguhnya. Itu akan lebih indah dan menentramkan. Rindu hatinya akan salalu ia jaga hanya untuk-Mu sebelum pintu kehalalan terbuka. Meski raganya terpenjara sesungguhnya kebebasan jiwa mengrharap untuk berdua dengan-Mu. Ia akan sambut dengan sepenuh hati ketika tiba waktu tepat menurut-Nya bukan menurutku. Saling mencinta dalam diam dan saling merindu dalam doa, biarkanlah seperti itu.


**Sabarlah menanti janji Allah kan pasti hadir tuk datang menjemput hatimu