Hidup Indah dengan Ukhuwah

Minggu, 08 Juli 2012

Kritikan Putri Imam Ahmad

Imam Ahmad adalah seorang ulama besar ahli hadis dan ahli fiqih di kota Baghdad. Dia memiliki seorang guru yang sangat ia hormati, yaitu Imam Syafii. Penghormatan Imam Ahmad pada Imam Syafii adalah sebaik-baik penghormatan seorang murid kepada gurunya. Imam Ahmad tidak pernah lupa untuk menyebut nama Imam Syafii dalam doa-doanya. Dia bahkan meminta kepada anak dan muridnya untuk mendoakan Imam Syafii setiap usai shalat. 
 
Imam Ahmad memiliki seorang anak perempuan yang salehah.Seringkali 
Imam Ahmad menuturkan keutamaan, kezuhudan, ketaqwaan, kecerdasan, dan kebaikan Imam Syafii. Hal ini membuat putrinya itu ingin sekali bertemu langsung dengan ulama yang dikagumi ayahnya itu.
 
Suatu kali Imam Ahmad mengundang Imam Syafii ke rumahnya. Imam Ahmad telah menyiapkan hidangan dan kamar khusus untuk gurunya itu. Imam Syafii samapai di rumah Imam Ahmad setelah shalat Isya'. Begitu sampai Imam Syafii langsung diajak Imam Ahmad untuk makan malam. Imam Syafii makan dengan tenang dan lahap. Usai makan Imam Syafii berbincang-bincang sebentar dengan Imam Ahmad lalu masuk ke kamar yang telah disiapkan untuknya dan merebahkan badan.
 
Ketika tiba waktu subuh Imam Syafii bangkit dan langsung menuju masjid bersama Imam Ahmad untuk shalat berjamaah. Imam Ahmad mempersilakan Imam Syafii untuk menjadi Imam. Namun Imam Syafii menolaknya.
 
"Jamaah disini lebih akrab denganmu. Hati merekaakan lebih tenang dan lebih mantap jikakau yang menjadi imam."Kata Imam Syafii dengan bijak.
 
Usai shalat subuh kedua imam itu I'tikaf di masjid sampai tiba waktu dhuha barulah keduanya kembali ke rumah Imam Ahmad. Sampai di rumah, Imam Syafii kembali masuk kamar. Sedang Imam Ahmad langsung ditemui oleh putrinya.
 
"Ayah, benarkah tamu kita Imam Syafii yang sering ayah ceritakan?" tanya putri Imam Ahmad
 
Benar, Ada apa putriku?" Jawab Imam Ahmad.
 
"Jika benar, maka ada tiga koreksi dan kritikan untuk Imam Syafii. Tiga hal ini menurutku agak tercela. Pertama, kulihat waktu makan, beliau makan banyak sekali. Kedua, setelah masuk kamar beliau langsung merebahkan badan dan tidur. semalam suntuk aku memperhatikan. Ternyata beliau tidak shalat malam. padahal shalat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh. Dan ketiga, begitu bangun tidur ia langsung ke masjid untuk shalat subuh tanpa wudlu."
 
Imam Ahmad jadi bingung dan penasaran mendengar penuturan putrinya itu. Namun ia tak mau berprasangka yang bukan-bukan pada gurunya. Saat itu juga Imam Ahmad menemui Imam Syafii untuk meminta penjelasan atas apa yang diamati putrinya.
 
Mendengar hal itu Imam Syafii tersenyum dan menjelaskan,
 
"Ahmad memang benar aku makan banyak dan itu ada alasannya. Aku tahu makanan yang kau hidangkan itu halal. Aku juga tahu engkau adalah orang yang pemurah dan dermawan. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya. Dan makan makanan orang pemurah adalah obat. Lain dengan makan makanan orang bakhil, itu membawa penyakit. Aku makan banyak karena berharap mendapat berkah yang banyak juga berharap mendapat obat.
 
Sedang aku tidak shalat malam, itu karena bagitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. digelar didepan mataku. Dan aku menelaahnya dengan seksama semalam suntuk. Dan hasilnya, aku berhasil memecahkan tujuh puluh dua masalah fiqih yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Karena itu aku tidak sempat untuk shalat malam.
 
Dan aku shalat subuh tanpa berwudlu sama sekali sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Aku masih punya wudlu sejak shalat Isya'. Maka aku shalat dengan kalian tanpa perlu mengulang wudlu."


Terinsiprasi dari tausiah Buya Yahya www.buyayahaya.org di kutip dalam Novelet Habiburrahman El-Shirazy - Di Atas Sajadah Cinta

1 komentar:

  1. Orang-orang besar dan saleh tiap tindak tanduknya tiada yang sia-sia.

    Mari semangat memperbaharui diri :)

    BalasHapus