Hidup Indah dengan Ukhuwah

Sabtu, 15 Maret 2014

TA’ARUF (Kenali Keluarga dengan Keluarga)

Bismillahirrahmanirrahim,,
Ta’aruf merupakan terminal dengan tujuan mencari ridho Allah dalam sebuah pernikahan. Ta’aruf dilakukan untuk mengetahui hasad bukan nasab terlebih lagi pacaran. Untuk mengetahui hasad seseorang bisa diketahui melalui watak, seperti sifat kesabaran, perangai, dan  karakter.
Banyak orang mengartikan ta’aruf (saling mengenal) sama dengan berpacaran. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam islam karena makna berpacaran disini ialah bertemunya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom (saudara sedarah). Bagi mereka yang mengenal pacaran pada intinya sama ingin saling mengenal, hanya saja mereka belum tahu cara yang paling benar. Cara yang benar dalam Ta’aruf adalah mengikuti sunah Rasulullah, diantaranya yaitu:
1. Seseorang jika ingin mengetahui agamanya maka bisa melalui sahabat atau orang yang dekat dengannya.
2. Mengirim seseorang (2 orang atau lebih) untuk mencari informasi. Hal ini untuk menghindari berpacaran karena dengan berpacaran hanya mengikuti hawa nafsu (suka-suka atau semaunya sendiri) dan dalam dirinya selalu membela bahwa apa yang dilakukannya adalah benar karena sudah terjebak dalam ranjau.
3. Di dalam Ta’aruf hindari untuk jatuh cinta akan tetapi kita harus rindu dan taqwa kepada Allah Swt. Peran disini kita harus menggunakan strategi, yaitu daya strategi rasulullah untuk mengetahui watak, perangai dan karakter. Dan untuk mengenali semua itu dianjurkan agar tidak terlalu lama +  3 minggu bukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. karena dalam perjalanan bisa saja diketahui kebodohan seseorang ketika kita menjalaninya dengan pacaran dan sungguh itu sebenarnya hanya dipengaruhi oleh hawa nafsu belaka.
4. Istikharah, ada 2 syarat yaitu:
- Untuk yang layak terpilih, secara dzahir
- Hati yang kosong (mengosongkan hati)
Dengan memanjat do’a jika dia memang tidak baik maka jauhkan-lah, akan tetapi jika hatinya sudah terikat biasanya terjebak dalam situasi.
Dalam istilah psikologi, ta’aruf diibaratkan Analogialamnesa. Istilah tersebut dapat terjadi seperti halnya seleksi dalam penerimaan pegawai atau kenaikan pangkat, yaitu harus mengikutinya secara prosedural dan kita akan menampilkan dengan upaya terbaik agar tercapainya tujuan. Di dalam menikah tidak ada istilah terlambat, usia berapapun menikah bukanlah menjadi suatu masalah karena Allah Swt. akan menjadikan indah pada waktunya. Hal ini tidak menjadi suatu masalah jika sang anak belum terjerumus dalam kehinaan sehingga keselamatan tetaplah terjaga.
Dalam urusan pernikahan, wahai orang tua hendaklah menengok dan meneladani Umar bin Khatab dari sosok yang bijaksana. Dicontohkan pula bahwa Khadijah adalah seorang pelamar wanita (teladan baik), islam membolehkan perempuan melamar laki-laki. Hal ini bukanlah suatu kehinaan akan tetapi jika laki-laki yang dilamar mempunyai akhlak yang baik akan mampu membimbing istrinya dalam kebaikan kenapa tidak.
Pesan kepada orang tua, ketika datang seseorang melamar anak kita maka yang hendak dilakukan ialah:
- Kenali dia terlebih dahulu, dengan mencari informasi
- Apabila kita mengenali dia dengan baik agamanya maka tidak ada alasan untuk menolaknya.
Pentingnya hal ini karena seorang ayah memiliki peran penting dalam menyambut kelahiran anaknya, yaitu:
- Memilihkan ibunya yang baik
- Memilih nama yang baik
- Mempersiapkan untuk mengajar al-qur’an

Walahu’alam bishowab.
Pesan hikmah Rumahku Syurgaku | 181110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar